Wednesday, July 29, 2015

Ya Kalau Gagal, Memangnya Kenapa?

Gagal itu biasa. Tapi, bisa bangkit dari kegagalan itu yang enggak biasa.

Ini rahasia umum.
Yang bukan rahasia umum adalah, setiap kegagalan itu pasti punya suatu maksud di baliknya. Maksud yang, bisa diterima dengan lapang dada, atau ditolak dengan perasaan marah. 
Saya baru saja mengalami kegagalan yang entah ke sekian kalinya dalam hidup saya. Minggu lalu, tepat di satu hari sebelum Rabu, saya kembali bertemu dengan kegagalan baru. Saya dinyatakan tidak lulus dalam seleksi sebuah beasiswa untuk belajar bahasa Italia selama tiga bulan di Eropa situ. 

Kecewa? Ya iya tentu. Butuh hampir 24 jam penuh bagi saya untuk merelakan perginya kesempatan itu.
Terpukul? Ya, apalagi itu! Saya merasa bahwa saya sudah berusaha semampu saya. Saya sudah mengeluarkan usaha semaksimal yang saya bisa. Tapi saya masih tidak diterima.
Saya sulit menerima.

Berbagai pihak yang saya jadikan destinasi berkeluh kesah, hampir semua menyatakan hal yang serupa.

"Ini mungkin jalan yang terbaik."
"Tuhan pasti sedang menyiapkan rencana yang lebih indah. Kamu hanya butuh percaya. Dan tetap berterima kasih sama Dia."

Mungkin mereka pikir, menerima itu mudah. Atau mungkin mereka pikir, meyakinkan diri bahwa rencanaku bukan rencana-Nya itu adalah perkara sederhana.

Maaf, tapi mereka salah.

Menerima itu sulit. Dan meyakinkan diri bahwa rencana yang baik buatku belum tentu baik dari kacamata-Nya adalah perkara berbelit.

Lalu bagaimana kemudian? Kemudian, saya berefleksi.

Berbulan sebelumnya ketika aplikasi beasiswa itu harus diurus dan diselesaikan, ketika saya seharusnya mengulang kembali ilmu bahasa Italia yang sempat saya dapatkan, ketika saya seharusnya mengumpulkan niat dan menjadikan beasiswa itu satu-satunya pilihan, saya kemana? Saya justru tak di tempat yang seharusnya.

Saya memang mengurus semua berkas, pulang pergi ke kampus dan pusat kebudayaan, menyusun kata demi kata menjadi rangkaian bahan untuk jawaban wawancara, tetapi ternyata saya silap dalam mengumpulkan niat penuh untuk belajar bahasa. Niat dan keinginan saya tak bulat. Sebagian besar potongannya entah menghilang ke mana.

Dengan refleksi singkat, saya sadar bahwa saya hanya ingin menginjakkan kaki di Eropa, mempelajari budayanya, menikmati keindahannya, dan kemudian mungkin akan saya tuangkan dalam tulisan romansa sebagaimana yang saya janjikan pada yang mewawancara. Tujuan utama saya bukan belajar bahasa.

Dengan refleksi singkat, saya mulai menanyakan kembali satu pertanyaan 'sakral' pada diri saya sendiri. Apakah beasiswa ini adalah sesuatu yang betul-betul saya mau? Apakah ini penting? Apakah ini berkaitan dengan rencana-rencana hidup saya?

Ternyata, jawabannya sama sekali di luar dugaan saya sendiri. Beasiswa ini bukan yang betul-betul saya mau. Saya hanya ingin ke Eropa. Saya hanya ingin menambah wawasan dengan budayanya yang kaya. Saya hanya ingin misa di Roma dan makan pizza asli Italia. Saya hanya ingin berjalan-jalan ke Eiffel dan atau mungkin melihat banyaknya chapelleTujuan utama saya bukan belajar bahasa.

Ternyata, ada hal lain yang lebih lebih saya ingini. Dan itu tak ada hubungannya dengan bahasa Italia, sama sekali. Dan itu, mengharuskan saya untuk tinggal saja di sini. Bukan malah pergi ke negara asal Da Vinci.

PUN jika saya mendapatkan beasiswa itu, lalu saya pergi ke Italia situ, saya hanya akan menunda lagi keinginan saya yang lain, yang muncul lebih dulu.

Lantas apalagi yang bisa saya lakukan selain mensyukuri keadaan?

Tuhan telah membantu saya mengambil keputusan. Tuhan telah membantu saya meneguhkan pilihan. Kalau saja, Tuhan mengabulkan doa saya untuk pergi ke negara ber-Pisa, saya hanya akan galau dan guling-gulingan kebingungan untuk menentukan pilihan, bukan? Kalau saja saya memutuskan tak jadi ke negara ber-Pisa padahal saya diterima, bagaimana perasaan teman-teman yang justru ditolak cintanya oleh Kedutaan Italia?

Kadang lika-liku hidup ini lucu. Manusia terlalu banyak mau. Mau ini, mau itu, tanpa benar-benar tau apa yang sebenarnya dituju. Saya lalu menertawai hidup saya yang hobi melucu.

Tapi setidaknya dengan melucu, saya bisa berkenalan dengan penolakan, kegagalan, bahkan dengan petunjuk nyata Tuhan agar saya mengurangi kejenakaan saya. 

Setidaknya, saya kembali diarahkan ke jalan yang secara tak sadar sudah saya tentukan.
Setidaknya, saya bisa fokus mengejar hal-hal lain yang lebih saya impikan.

Hampir saja saya melupakan sebuah pepatah lama: 'Banyak jalan menuju Roma'. Padahal, pepatah itu benar adanya. Kalau tidak sekarang, ya saya harus mengejar Roma di lain kesempatan. Toh, untuk mudik sekitar pulau Jawa saja, kita punya jalur Utara dan jalur Selatan. Benar, kan?

Saya sadar, tulisan ini bukan tulisan ala motivator kenamaan. Namun saya hanya ingin berbagi. Berbagi cara saya sendiri untuk mengikhlaskan suatu keadaan. Menerima dan tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Melainkan berterima kasih sama Tuhan yang kerap disalahkan atas pelbagai kegagalan.

"Ya kalau gagal, memangnya kenapa?"

6 comments:

  1. Replies
    1. Yep, proses itu lebih penting daripada hasil. Yang lebih penting, bagaimana memaknai hasil dan proses itu sendiri. Nah loh.

      Delete
  2. Bagus deh kak tulisannya

    ReplyDelete
  3. Banyak cara menuju Roma, mau transit di Doha, Dubai, atau cuman di Singapur ? Gue percaya loe fokus nulis akan membawa loe terbang untuk ngopi cantik di MIlan sambil liat cowo2 Milan yang berseliweran katanya 11-12 sama gue

    ReplyDelete
    Replies
    1. TRY!!! Komen lo super nyemangatin loh meskipun sederhana. Hehehe, mari semangat mengejar cita-cita. See you on top!

      Delete

Thanks for leaving a comment :)